Kerja Hybrid atau Kembali Masuk Kantor, Pilih Mana?
Pola kerja hybrid dan WFO adalah dua pilihan sistem kerja yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, WFO unggul dalam komunikasi efektif dan menjaga produktivitas, sementara kerja hybrid unggul dalam penghematan biaya dan work-life balance karyawan.
Pilihan terbaik bergantung pada kesiapan teknologi, jenis pekerjaan, dan prioritas karyawan di perusahaan Anda. Pola kerja hybrid adalah jalan tengah antara kemauan pengusaha untuk WFO dan karyawan yang senang bekerja dari rumah (WFH).
Masing-masing pola kerja pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, maka sebelum menentukan cara kerja mana yang akan Anda pilih, simak ulasan berikut.
Baca Juga: Software Absensi Online, Solusi Tepat Pantau Jam Kerja Karyawan
Kelebihan WFO
Tabel Perbandingan WFO dan Hybrid
| Aspek | WFO | Kerja Hybrid |
| Komunikasi | Lebih efektif, minim miskomunikasi, cocok untuk meeting dan workshop | Berisiko terkendala, terutama saat pertemuan hybrid (langsung + virtual) |
| Produktivitas | Terjaga karena minim distraksi rumah dan ritme kerja stabil | Berpotensi meningkat karena karyawan lebih sejahtera dan kreatif |
| Biaya operasional | Lebih tinggi: sewa kantor, listrik, internet, ATK | Lebih hemat karena karyawan tidak selalu perlu datang ke kantor |
- Komunikasi lebih efektif
WFO dapat meminimalisir terjadinya miskomunikasi, karena komunikasi secara langsung lebih mudah ditangkap dengan jelas oleh karyawan. Terlebih apabila Anda hendak menggelar aktivitas seperti pengarahan, workshop ataupun meeting, lebih mudah dilakukan di kantor.
- Menjaga produktivitas kerja
Kerja di kantor mencegah karyawan Anda teralih fokus akibat distraksi-distraksi di rumah. Ritme kerja cenderung stabil karena adanya jam kerja karyawan, sehingga mereka terdorong memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan.
- Meningkatkan rasa persatuan
Kehadiran di kantor memanfaatkan pertemuan “acak” yang memungkinkan karyawan mendapatkan informasi yang berbeda guna mendorong inovasi. Ini berpengaruh terhadap kesatuan perusahaan dan keharmonisan hubungan antarkaryawan. Mereka saling menularkan tujuan dan tentu berdampak positif terhadap perusahaan.
Kekurangan WFO

- Menambah biaya pengeluaran
Tak dipungkiri, WFO memengaruhi budget operasional perusahaan seperti biaya sewa kantor, tagihan listrik dan internet, perangkat keras hingga ATK.
- Berisiko menurunkan kreativitas
Selalu terikat dengan jam kantor membuat karyawan Anda cenderung stres karena tekanan saat dipantau secara langsung, belum lagi jika lingkungan kerja kurang kondusif. Kecemasan itu membuat kreativitas mereka rentan terhambat.
Baca Juga: Poin Penting Sistem Kerja 4 Hari Seminggu bagi Perusahaan
Kelebihan Kerja Hybrid
Pola kerja hybrid sekilas terlihat seperti jalan tengah antara kemauan pengusaha untuk WFO dan karyawan yang senang WFH. Mari cek kelebihannya :
- Hubungan yang lebih baik dengan manajemen
Riset yang dilakukan ADP Research Institute menunjukkan bahwa karyawan hybrid memiliki pandangan lebih positif terhadap manajer mereka dibandingkan karyawan remote dan WFO. Hybrid office model dapat memudahkan transisi dari pola kerja pandemi ke rutinitas yang lebih normal.
- Menghemat biaya
Karena karyawan tidak harus selalu datang ke kantor, Anda akan lebih hemat budget, terlebih jika Anda baru membangun bisnis kecil dan belum punya kantor sendiri. Biaya tagihan dan pengadaan sarana bisa dihemat dan dialokasikan untuk fokus lain.
- Meningkatnya work-life balance
Kesempatan bekerja dari rumah membuat karyawan lebih sejahtera dan memiliki keseimbangan kehidupan kerja. Mereka cenderung terdorong lebih produktif dan kreatif, sebab terhindar dari tekanan saat diawasi langsung Anda masih bisa memantau mereka dengan kebijakan masuk kantor pada hari tertentu, agar karyawan tidak jenuh.
Kekurangan Kerja Hybrid

- Terkendalanya komunikasi
Meski Anda berusaha menduplikasi pengalaman komunikasi langsung saat mengadakan pertemuan virtual, nyatanya masih jauh dari sempurna. Apalagi jika pertemuan hybrid, diselenggarakan langsung dan virtual bersamaan. Media komunikasi yang tidak sama ini menyebabkan informasi rentan tidak diterima dengan baik oleh karyawan.
- Kurangnya pengawasan karyawan
Jadwal masuk kantor yang berbeda antara karyawan dan atasannya menimbulkan tantangan baru yang berisiko merusak skema kerja. Karyawan cenderung bekerja saat diawasi atasannya di kantor. Jika sistem hybrid diberlakukan berbeda-beda hari tiap karyawan, tentu ada hari yang dilewatkan dengan tidak produktif.
- Perlu didukung teknologi
Jika Anda belum mempunyai infrastruktur teknologi yang kuat untuk mengelola hybrid working, maka pola kerja ini mungkin tidak cocok untuk Anda. Karena pengawasan akan rumit dilakukan tanpa teknologi, efeknya justru merugikan perusahaan.
Dalam memilih yang terbaik, Anda bisa fokus terhadap dua hal : transisi dan fleksibilitas. Saat ini merupakan masa peralihan pasca pandemi, butuh waktu beralih secara bertahap untuk kembali pada ritme yang Anda inginkan agar karyawan fokus pada pekerjaan.
Pilihlah sistem kerja yang lebih fleksibel, namun pastikan Anda telah mempertimbangkan terkait : kesehatan dan keselamatan kerja, jenis pekerjaan, gaya komunikasi, prioritas karyawan, data produktivitas dan peraturan tambahan terkait lembur karyawan serta kemajuan karir karyawan.

Baca Juga: Bagaimana Perhitungan Jam Kerja yang Berlaku di Indonesia?
Aplikasi Pendukung Kerja Hybrid, Praktis dan Akurat!
Untuk permasalahan teknologi, tidak akan rumit menerapkan berbagai sistem kerja, terlebih hybrid working, dengan Hadirr dan Gadjian.
Hadirr akan membantu pekerjaan administrasi seperti presensi online, pengaturan shift kerja karyawan, pembagian tugas dan kolaborasi jarak jauh hingga pemantauan kunjungan kerja karyawan.
Anda juga bisa menikmati otomatisasi penggajian dengan fitur menarik aplikasi payroll Gadjian, seperti perhitungan gaji online, pembuatan slip gaji otomatis, dan analisis data produktivitas karyawan. Yuk, langsung coba secara gratis sekarang juga!
Writer: YRA
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Pola kerja hybrid adalah sistem kerja yang menggabungkan kehadiran di kantor (WFO) dan bekerja dari rumah (WFH). Ini menjadi jalan tengah antara keinginan pengusaha untuk WFO dan preferensi karyawan untuk WFH.
Kelebihan WFO termasuk komunikasi yang lebih efektif, produktivitas yang terjaga karena minim distraksi, dan meningkatkan rasa persatuan di antara karyawan melalui interaksi langsung.
Kekurangan WFO meliputi biaya operasional yang lebih tinggi, seperti sewa kantor dan tagihan, serta risiko menurunnya kreativitas akibat tekanan dan lingkungan kerja yang kurang kondusif.
Keuntungan kerja hybrid antara lain hubungan yang lebih baik dengan manajemen, penghematan biaya operasional, dan peningkatan keseimbangan kehidupan kerja bagi karyawan.
Kekurangan kerja hybrid termasuk terkendalanya komunikasi, kurangnya pengawasan terhadap karyawan, dan perlunya dukungan teknologi yang kuat untuk mengelola sistem ini.
Pertimbangan saat memilih pola kerja meliputi kesehatan dan keselamatan kerja, jenis pekerjaan, gaya komunikasi, prioritas karyawan, data produktivitas, dan peraturan terkait lembur serta kemajuan karir.
Meskipun komunikasi dalam pola kerja hybrid dapat terkendala, penting untuk menggunakan teknologi yang mendukung pertemuan virtual dan memastikan semua karyawan mendapatkan informasi yang sama.
Kehadiran di kantor dapat meningkatkan interaksi antar karyawan, mendorong inovasi, dan memperkuat kesatuan perusahaan, tetapi juga dapat menambah tekanan dan mengurangi kreativitas.
Transisi dalam konteks pola kerja merujuk pada perubahan bertahap dari sistem kerja pasca pandemi menuju ritme kerja yang diinginkan, dengan fokus pada fleksibilitas dan kesiapan teknologi.
Dukungan teknologi penting dalam kerja hybrid untuk memfasilitasi komunikasi, pengawasan, dan manajemen karyawan secara efektif, sehingga mengurangi risiko ketidakproduktifan.


