Studi Kasus Manajemen Pipeline Penjualan Reordering Milestone Tanpa Merusak Deal Card

Studi Kasus Manajemen Pipeline Penjualan: Reordering Milestone Tanpa Merusak Deal Card

Manajemen pipeline penjualan sering tersendat saat Sales Manager perlu mengubah urutan tahapan penjualan (reordering), tetapi sistem pipeline mengharuskan deal card dipindahkan satu per satu. Situasi ini dapat muncul setelah perusahaan mengadopsi metodologi baru, melakukan review proses, atau menambah langkah approval. Dampaknya, operasional sales melambat, data historis berisiko tidak konsisten, dan tim enggan memperbarui CRM karena perubahan kecil memakan waktu.

Milestone pipeline adalah tahapan proses penjualan, misalnya Lead, Qualified, Proposal, Negosiasi, dan Closing, yang dilalui deal card sampai transaksi selesai. Pada aplikasi sales pipeline, urutan milestone membantu tim memahami langkah berikutnya dan memberi manager gambaran tentang posisi deal.

Baca juga: 9 Template Sales Pipeline untuk Kelola Proses Penjualan Lebih Efektif

Kenapa Urutan Milestone Sulit Diubah dan Dampaknya Terasa ke Operasional?

Cara monitoring sales lapangan tanpa micromanagement

Kasus yang sering terjadi: admin atau Sales Manager ingin memindahkan milestone “Negosiasi” ke sebelum “Penawaran” karena proses baru mengharuskan diskusi harga dilakukan lebih awal. Namun, urutan milestone tidak selalu dapat diubah lewat drag-and-drop. Akhirnya, tim memilih salah satu dari dua cara.

Pertama, tim membuat pipeline baru dari nol dengan urutan tahapan yang baru. Konsekuensinya, histori stage pada deal lama tidak sejajar dengan proses baru dan laporan per stage menjadi terpisah.

Kedua, tim mempertahankan pipeline lama lalu memindahkan ratusan deal card secara manual agar mengikuti urutan baru. Cara ini menghabiskan waktu untuk pekerjaan administratif dan mengurangi waktu yang seharusnya digunakan untuk follow-up pelanggan.

Masalah ini berpengaruh langsung pada monitoring pipeline penjualan. Pipeline bukan sekadar tampilan kolom, tetapi membantu manajer melihat progres deal, aktivitas yang perlu dilakukan, dan peluang yang membutuhkan perhatian. 

Pipeline juga menjadi salah satu masukan untuk forecasting penjualan, membantu perusahaan memperkirakan potensi pendapatan, dan menilai kesehatan peluang bisnis.

Baca juga: Tahapan dan Contoh Sales Pipeline pada Bisnis

Studi Kasus: Bagaimana Sales Manager Mengelola Reordering Milestone Tanpa Hapus Data?

Sebuah perusahaan distribusi B2B melakukan review kuartalan dan memutuskan tahap “Survey Kebutuhan” harus dilakukan sebelum “Demo Produk”. Tujuannya agar sales memahami kebutuhan prospek lebih dulu, bukan menghabiskan waktu untuk demo yang belum tepat sasaran.

Perubahan ini terdengar sederhana, tetapi pipeline perusahaan sudah memuat 480 deal aktif dan histori 3.000 deal closed. Deal aktif tersebar di berbagai milestone, sementara urutan tahap tidak mudah diubah. Sales Manager harus menentukan cara menerapkan SOP baru tanpa kehilangan konteks deal yang sedang berjalan atau merusak data untuk forecasting.

Target Sales Manager:

  • Menerapkan urutan milestone baru tanpa menghapus atau mengaburkan histori deal.
  • Memastikan sales tetap melakukan follow-up selama perubahan berlangsung.
  • Menjaga laporan forecasting sebelum dan sesudah perubahan tetap bisa dibandingkan.

Masalah yang dihadapi:

  • Deal aktif tersebar di berbagai tahap, sehingga pemetaan ke milestone baru berisiko keliru.
  • Urutan milestone tidak fleksibel, sehingga perubahan mengharuskan admin mengedit nama tahap satu per satu atau membuat pipeline baru, berisiko salah stage, dan menyulitkan follow-up.
  • Jika pipeline baru dibuat, data historis terpecah dan analisis tren menjadi lebih rumit.

Dalam kasus ini, tantangannya bukan hanya mengubah urutan milestone. Sales Manager perlu merancang transisi yang menjaga data lama tetap terbaca, menentukan posisi deal aktif dalam SOP baru, dan memastikan aktivitas penjualan tidak berhenti selama penyesuaian. Sales Manager harus menyeimbangkan kualitas data, kesinambungan laporan, dan produktivitas tim sales.

Baca juga: Leads CRM: Rahasia Penjualan Lebih Efektif & Optimal

Apa Risiko Manajemen Pipeline Penjualan Saat Perubahan Kecil Memicu Kerja Besar?

perusahaan yan menerapkan crm

Masalah urutan milestone tampak kecil, tetapi dapat melemahkan adopsi CRM dan menurunkan kualitas data.

Risiko pertama: adopsi CRM melemah. Jika perubahan pipeline merepotkan, sebagian sales dapat menghindari pembaruan deal. CRM akhirnya hanya berisi input minimum, sementara aktivitas utama kembali dicatat di chat dan spreadsheet.

Risiko kedua: akurasi laporan turun. Deal dapat tertinggal di stage lama atau berpindah stage tanpa catatan alasan. Kesalahan ini membuat data untuk review mingguan kurang dapat diandalkan dan menyulitkan monitoring pipeline penjualan.

Risiko ketiga: waktu kerja terbuang untuk tugas manual. Memindahkan deal satu per satu menyita waktu Sales Manager dan sales ops yang seharusnya dapat digunakan untuk memantau progres deal dan menindaklanjuti peluang.

Ketiga risiko tersebut berdampak pada perusahaan pengguna CRM: tim lebih sulit menjaga data dan menjalankan follow-up secara konsisten.

Baca juga: Deal Stuck dalam Penjualan? Ini Tips Distributor Cara Menguranginya

Berapa Waktu yang Dibutuhkan untuk Memindahkan Ratusan Deal Manual?

Berikut contoh perhitungan untuk menggambarkan beban administratif. Angka ini merupakan asumsi ilustratif biaya operasional, bukan data benchmark industri.

Asumsi:

  • Deal aktif: 480.
  • Waktu memindahkan satu deal card dan memeriksa field: 25 detik.
  • Sebanyak 10% deal memerlukan koreksi karena salah stage.
  • Waktu koreksi per deal: 60 detik.
  • Tugas dilakukan oleh satu admin atau sales ops.
  • Waktu kerja efektif per hari untuk tugas admin: 4 jam.

Perhitungan:

  • Waktu pemindahan awal: 480 × 25 detik = 12.000 detik atau 200 menit.
  • Jumlah deal yang perlu dikoreksi: 10% × 480 = 48 deal.
  • Waktu koreksi: 48 × 60 detik = 2.880 detik atau 48 menit.
  • Total: 200 + 48 = 248 menit, sekitar 4 jam 8 menit.

Angka tersebut belum memasukkan waktu komunikasi internal, pembaruan SOP, dan audit data. Jika perubahan urutan terjadi lebih dari sekali per kuartal, biaya waktu akan berulang. Karena itu, manajemen pipeline penjualan perlu memperlakukan reordering milestone sebagai proses perubahan, bukan tugas kecil.

Baca juga: 7 Jenis Aplikasi Sales Tracking untuk Monitoring Aktivitas Penjualan

Bagaimana Mengelola Reordering Milestone Pipeline Tanpa Reset Data Historis?

Contoh Sales Pipeline Hadirr

Di Hadirr, deal card dapat dipindahkan antar-milestone menggunakan drag-and-drop. Namun, urutan milestone tidak dapat diubah atau disusun ulang melalui drag-and-drop maupun pengeditan milestone.

Desain ini menjaga struktur tahapan penjualan dan data deal tetap stabil. Dengan begitu, admin dan sales tidak perlu menghadapi perubahan urutan yang tiba-tiba, data historis yang ikut bergeser, atau laporan yang sulit dibaca.

Solusi paling sederhana adalah tetap melanjutkan pipeline yang sedang berjalan. Deal aktif dan histori penjualan tetap berada pada pipeline lama, sehingga tidak perlu dipindahkan satu per satu.

Pendekatan ini juga membantu menjaga budaya kerja positif. Sales dan admin mengetahui pipeline mana yang digunakan untuk deal lama maupun baru, sehingga status peluang lebih mudah dipahami tanpa perdebatan.

Jika perusahaan mengubah kebijakan atau metode penjualan yang memengaruhi urutan milestone, buat pipeline baru untuk prospek baru. Hadirr mendukung pembuatan multi pipeline dengan tahapan yang dapat dikustomisasi berbeda-beda.

Caranya: masuk ke menu Produktivitas > Pipeline Kerja > Pipeline. Lalu klik tombol Tambah dan pilih Pipeline. Beri nama pipeline baru, lalu beri nama milestone 1, 2, 3 dan seterusnya sesuai metode yang baru. Anda dapat membuat maksimal 10 milestone, lalu tambahkan deal card.

manajemen pipeline penjualan

Anggap perubahan ini sebagai masa transisi. Pipeline lama tetap digunakan untuk deal yang sudah berjalan. Setelah deal pada pipeline lama selesai, prospek dan deal baru dapat dimasukkan ke pipeline baru dengan tahapan penjualan yang sudah disesuaikan.

Dengan cara ini, data pelanggan lama dan baru tetap tersimpan. Perusahaan juga tidak perlu memindahkan ratusan deal card manual hanya karena urutan milestone berubah.

Baca juga: 7 Jenis Sales dan Perannya untuk Meningkatkan Penjualan

Langkah Transisi Manajemen Pipeline Penjualan di Hadirr

Banner Monitor Sales Lapangan Tanpa Repot

Transisi yang terencana membantu menciptakan lingkungan kerja sehat karena sales tidak perlu menata ulang ratusan deal secara manual, sementara admin memiliki aturan yang jelas mengenai pipeline lama, pipeline baru, dan waktu perubahan.

  1. Pertahankan pipeline lama untuk deal aktif. Jangan memindahkan deal yang sedang berjalan ke pipeline baru, karena data historis dan posisi tahapnya tetap relevan.
  2. Buat pipeline baru untuk prospek dan deal baru. Susun tahapan sesuai SOP penjualan terbaru, misalnya Survey Kebutuhan sebelum Demo Produk.
  3. Tetapkan tanggal mulai transisi. Misalnya, semua lead yang masuk setelah tanggal tertentu menggunakan pipeline baru.
  4. Tutup dan evaluasi pipeline lama secara bertahap. Pastikan deal lama selesai, ditutup, atau dipindahkan hanya jika memang diperlukan dan memiliki alasan operasional yang jelas.
  5. Sosialisasikan SOP baru kepada sales. Jelaskan pipeline mana yang digunakan untuk deal lama, pipeline mana untuk deal baru, serta kapan perubahan mulai berlaku.
  6. Pantau laporan secara terpisah selama transisi. Pisahkan data pipeline lama dan baru agar tren penjualan tidak tercampur sebelum transisi selesai.

Dengan pendekatan ini, Hadirr menjaga data penjualan tetap stabil, sales tetap fokus pada follow-up, dan admin tidak perlu memindahkan ratusan deal card manual hanya karena urutan milestone berubah.

Baca juga: Contoh Teknik Closing Sales Profesional

Rapikan Pipeline Kerja Sales agar Reordering Milestone Tidak Menghambat Tim

Cara Memilih Software CRM Online yang Tepat

Jika data prospek masih tersebar di chat, spreadsheet, dan catatan pribadi tiap sales, perubahan kebijakan penjualan akan semakin sulit dikelola. Solusinya adalah memindahkan seluruh proses ke satu pipeline kerja sales yang dapat dipantau bersama.

Dengan aplikasi manajemen pipeline penjualan Hadirr, setiap prospek tercatat per tahap, mulai dari lead masuk, penawaran, negosiasi, hingga closing sales. Manajer dapat melihat deal mana yang berhenti bergerak, siapa yang menanganinya, dan kapan terakhir kali di-follow-up.

Sebagai aplikasi HR sekaligus CRM online, Hadirr juga menghubungkan pipeline dengan aktivitas lapangan. Kunjungan sales tervalidasi melalui absensi geolocation, sehingga laporan kunjungan dan progres deal berada di satu dashboard tanpa rekap manual di akhir minggu.

Pipeline kerja sales di Hadirr relevan untuk bisnis dengan tim penjualan lapangan maupun inside sales, seperti:

  1. FMCG, distribusi, dan industri retail
  2. Industri FnB
  3. Farmasi dan alat kesehatan
  4. Properti dan developer perumahan
  5. Industri otomotif dan dealer kendaraan
  6. Industri manufaktur dan supplier B2B

Hadirr adalah software absensi dan aplikasi produktivitas karyawan yang telah digunakan oleh UMKM, startup, perusahaan multinasional, hingga perusahaan dan instansi pemerintah di Indonesia untuk memonitor produktivitas karyawan hingga mengelola penjualan dan meningkatkan omzet.

Coba Hadirr Sekarang

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kesulitan dalam mengubah urutan milestone sering terjadi ketika sistem pipeline mengharuskan deal card dipindahkan satu per satu. Hal ini dapat terjadi setelah adopsi metodologi baru, review proses, atau penambahan langkah approval, yang menyebabkan operasional sales melambat dan data historis berisiko tidak konsisten.

Dampak dari kesulitan mengubah urutan milestone termasuk melambatnya operasional sales, risiko ketidakcocokan data historis, dan tim yang enggan memperbarui CRM. Hal ini dapat mengakibatkan laporan yang tidak akurat dan mengurangi efektivitas follow-up kepada pelanggan.

Tim sales dapat mengelola reordering milestone dengan mempertahankan pipeline lama untuk deal yang sedang berjalan dan membuat pipeline baru untuk prospek baru. Dengan cara ini, data historis tetap terjaga dan tidak perlu memindahkan deal card secara manual.

Risiko yang dihadapi termasuk melemahnya adopsi CRM, penurunan akurasi laporan, dan pemborosan waktu untuk tugas manual. Hal ini dapat mengakibatkan kesulitan dalam menjaga data dan menjalankan follow-up secara konsisten.

Langkah-langkah termasuk mempertahankan pipeline lama untuk deal aktif, membuat pipeline baru untuk prospek baru, menetapkan tanggal mulai transisi, dan mensosialisasikan SOP baru kepada tim sales.

Perusahaan harus membuat pipeline baru untuk prospek baru dengan tahapan yang disesuaikan, sementara pipeline lama tetap digunakan untuk deal yang sudah berjalan, sehingga data tetap terjaga.

Hadirr menyediakan aplikasi manajemen pipeline penjualan yang memungkinkan setiap prospek tercatat per tahap, memudahkan monitoring progres deal, dan menghubungkan aktivitas lapangan dengan data penjualan.

Related Post