Vitamin C disebut-sebut dapat membantu cegah corona. Hal ini tak lepas dari manfaat vitamin C dalam meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai jenis penyakit. Setidaknya, hasil berbagai penelitian ilmiah sejak seabad lalu telah membuktikan manfaat itu.

Vitamin C atau asam askorbat membantu mencegah atau mengurangi infeksi karena memiliki sifat anti-mikroba, anti-virus, anti-jamur, dan anti-parasit. Vitamin ini punya fungsi imunomodulator yang merangsang sistem imun tubuh bekerja lebih responsif, terutama jika diberikan dalam dosis tinggi. 

Di Google Trends, kurva pencarian kata kunci “vitamin C” di dunia mulai naik sekitar Februari 2020 dan menjulang hingga puncak tertinggi dengan skor 100 pada pekan terakhir Maret dan berangsur turun kembali mulai awal April, membentuk gunung runcing. Skor hingga akhir April masih bertahan di sekitar 50.

Kenaikan popularitas di mesin pencarian terbesar ini menunjukkan bahwa orang-orang di berbagai negara mencari informasi terkait vitamin C pada saat wabah corona menyebar di belahan dunia. Indonesia menjadi negara kelima dengan pencarian terbanyak, setelah Malaysia, Filipina, Jamaika, dan Uni Emirat Arab. 

Baca Juga: Tanya Jawab Seputar Aplikasi Work From Home

Apa sih hubungan vitamin C dengan imunitas kita terhadap virus corona?

Saat kekebalan tubuh diserang, limfosit dan sel darah putih akan mengambil lebih banyak vitamin C untuk mengubah diri mereka menjadi sel pembunuh yang ganas terhadap agen pembawa penyakit, termasuk virus corona. Artinya, vitamin C berperan memberi energi bagi sel darah dan mengubah sistem pertahanan menjadi lebih agresif terhadap mikroba.

Vitamin C tidak diproduksi oleh tubuh dan hanya diperoleh dari luar. Lalu, berapa banyak dosis yang dibutuhkan tubuh?

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG), laki-laki dewasa yang sehat membutuhkan 90 mg dan perempuan dewasa 75 mg vitamin C per hari atau setara dua buah jeruk. Namun, bagi orang yang sakit atau dalam masa pemulihan, dokter umumnya menyarankan dosis lebih tinggi dengan mengonsumsi suplemen vitamin untuk mempercepat penyembuhan.

Kebanyakan suplemen vitamin C yang diproduksi perusahaan farmasi memiliki dosis vitamin 250 mg, 500 mg, dan 1000 mg. Faktanya, tubuh tak dapat menyerap vitamin C dalam jumlah banyak sekaligus, dan membuang sisanya melalui urin. Dosis 250 mg per hari sudah lebih dari cukup untuk menjaga daya tahan tubuh menghadapi pandemi COVID-19.

Vitamin C juga bisa didapat langsung dari pangan alami: buah dan sayur. Sayangnya, dua jenis pangan ini masih kurang diminati. Data World Food Programme (WFP) 2016 menunjukkan tingkat konsumsi buah dan sayur di Indonesia per kapita per hari masih tergolong rendah, yakni 173 gram, sementara angka yang direkomendasikan adalah 400 gram. Jika kurang menyukai konsumsi buah dan sayur secara langsung, Anda bisa menikmatinya dalam bentuk jus (juice) buah dan sayur. 

Anda bisa mencoba Fruters, brand minuman juice, puree, dan slush buah dan sayur yang menyehatkan, seperti jeruk, mangga, pepaya, nanas, jambu guava, buah naga, air kelapa hijau, mentimun, brokoli, hingga seledri. Produk unggulannya adalah cold press juice, dengan berbagai varian, seperti Detox & Cleanse, Weight Loss, Immune Booster, Lower Cholesterol, Stress Away, dan Glowing Skin.

Fruters tersedia di Foodhall, Kemchick, Hero, dan dapat dipesan melalui GoFood. Atau, cek Instagram @frutersid dan @fruters_station untuk pemesanan langsung.

Brand lain yang layak dicoba adalah Yuliana Fresh Juice dengan aneka juice, smoothie, dan syrup, yang terbuat dari buah segar tropis. Jus premium sejak 1985 ini merupakan penyuplai minuman untuk restoran, cafe, dan hotel berbintang. 

Semua jus diproduksi tanpa menggunakan bahan pengawet, sehingga lebih sehat. Sedangkan Frei Premium Flavor Syrup dibuat dengan pemanis alami daun stevia, sehingga rendah kalori dibandingkan gula. Produk jus dan sirup bisa dipesan secara online melalui Instagram @yulianafreshjuice.

Fruters dan Yuliana Fresh Juice adalah perusahaan pengguna aplikasi absensi online Hadirr. Software yang dikembangkan Fast 8 ini telah digunakan ratusan pengusaha di Indonesia dan membantu mereka mengelola sistem pelaporan kehadiran karyawan yang praktis, hemat biaya, dan tanpa repot.

Baca Juga: Raih Cuan dari Usaha Logistik di Masa Pandemi Covid-19

Hadirr adalah mobile attendance yang berjalan di sistem Android dan iOS, sehingga setiap karyawan cukup menggunakan smartphone sebagai alat absensi, tak perlu perangkat sidik jari (fingerprint). Data absensi tercatat secara real-time dan tersimpan secara online.

Hadirr memungkinkan pelaporan kehadiran secara remote di banyak tempat, sehingga aplikasi ini mendukung work from home selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dengan teknologi face recognition dan pelacak lokasi (GPS), aplikasi Hadirr mencegah kecurangan meski karyawan melaporkan kehadiran dari rumah masing-masing.

Selain itu, Hadirr membantu memonitor aktivitas karyawan melalui fitur pemantau jadwal kerja, di mana Anda dapat mengetahui agenda kerja dan manajemen waktu karyawan pada hari itu. Jadi, sekalipun menerapkan kerja remote, Anda tak akan kehilangan kendali dan visibilitas atas kinerja karyawan. 

Tertarik mencoba gratis aplikasi Hadirr? Daftarkan perusahaan Anda sekarang juga!

Aplikasi Absensi Online Hadirr